Permulaan Wahyu
No. Hadist: 1
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Telah menceritakan kepada kami Al Humaidi Abdullah bin Az Zubair dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Sufyan yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al Anshari berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar Alqamah bin Waqash Al Laitsi berkata; saya pernah mendengar Umar bin Al Khaththab diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"
Syarah Syaikh Utsaimin
No. Hadist: 2
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ
هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ
صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ
عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي
فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ
يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ
وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
Telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada
kami Malik dari Hisyam bin 'Urwah dari bapaknya dari Aisyah Ibu Kaum Mu'minin,
bahwa Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam:
"Wahai Rasulullah, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau?"
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Terkadang datang
kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat
buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan
terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku
maka aku ikuti apa yang diucapkannya". Aisyah berkata: "Sungguh aku pernah
melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu
hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan
keringat."
No. Hadist: 3
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ
قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ
الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا
بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ
الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ
مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو
بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ
الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ
يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ
وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا
بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ
أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي
الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ
فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ
أَرْسَلَنِي فَقَالَ }
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ
الْأَكْرَمُ
{
فَرَجَعَ
بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ
فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ
زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ
لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ
خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ
الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ
وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ
بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ
خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ
الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا
شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ
خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا
ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي
نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ
حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ
مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا
مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ قَالَ
ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ
بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ
الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ
السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ
جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ
فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى
}
يَا
أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ
فَاهْجُرْ
{
فَحَمِيَ
الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ
وَتَابَعَهُ هِلَالُ بْنُ رَدَّادٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ
بَوَادِرُهُ
Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, Telah menceritakan kepada
kami dari Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari
Aisyah -Ibu Kaum Mu'minin-, bahwasanya dia berkata:
"Permulaaan wahyu yang
datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang
benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya
subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau
memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu 'ibadah di malam hari dalam beberapa
waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan
bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan
bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang
seraya berkata: "Bacalah?" Beliau menjawab: "Aku tidak bisa baca". Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan
memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: "Bacalah!" Beliau
menjawab: "Aku tidak bisa baca". Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku
sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: "Bacalah!". Beliau menjawab:
"Aku tidak bisa baca". Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk
ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)." Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat
wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh
seraya berkata: "Selimuti aku, selimuti aku!". Beliau pun diselimuti hingga
hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada
Khadijah: "Aku mengkhawatirkan diriku". Maka Khadijah berkata: "Demi Allah,
Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang
menyambung silaturrahim." Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan
Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul 'Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama
Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga
menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh
sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: "Wahai putra pamanku, dengarkanlah
apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini". Waroqoh berkata: "Wahai
putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: "Ini adalah
Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku
masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu". Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bertanya: "Apakah aku akan diusir mereka?" Waroqoh
menjawab: "Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa
seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti (dimusuhi). Seandainya aku
ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku". Waroqoh
tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu
meninggal dunia pada masa fatroh (kekosongan) wahyu. Ibnu Syihab berkata;
telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Jabir bin Abdullah
Al Anshari bertutur tentang kekosongan wahyu, sebagaimana yang Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam ceritakan: "Ketika sedang berjalan aku
mendengar suara dari langit, aku memandang ke arahnya dan ternyata Malaikat yang
pernah datang kepadaku di gua Hiro, duduk di atas kursi antara langit dan bumi.
Aku pun ketakutan dan pulang, dan berkata: "Selimuti aku. Selimuti aku". Maka
Allah Ta'ala menurunkan wahyu: (Wahai orang yang berselimut) sampai firman Allah
(dan berhala-berhala tinggalkanlah). Sejak saat itu wahyu terus turun
berkesinambungan."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf dan
Abu Shalih juga oleh Hilal bin Raddad dari Az Zuhri. Dan Yunus berkata; dan
Ma'mar menyepakati bahwa dia mendapatkannya dari Az Zuhri.
No. Hadist: 4
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ
إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَبِي
عَائِشَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي
قَوْلِهِ تَعَالَى }
لَا
تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ { قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَالِجُ مِنْ التَّنْزِيلِ شِدَّةً وَكَانَ
مِمَّا يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَنَا أُحَرِّكُهُمَا لَكُمْ
كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَرِّكُهُمَا
وَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا أُحَرِّكُهُمَا كَمَا رَأَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ
يُحَرِّكُهُمَا فَحَرَّكَ شَفَتَيْهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى } لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ
لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ { قَالَ جَمْعُهُ لَكَ فِي صَدْرِكَ
وَتَقْرَأَهُ }
فَإِذَا
قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
{
قَالَ
فَاسْتَمِعْ لَهُ وَأَنْصِتْ }
ثُمَّ
إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
{
ثُمَّ
إِنَّ عَلَيْنَا أَنْ تَقْرَأَهُ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بَعْدَ ذَلِكَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ اسْتَمَعَ فَإِذَا انْطَلَقَ
جِبْرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا
قَرَأَهُ
Telah
menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il dia berkata, Telah menceritakan kepada
kami Abu 'Awanah berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Musa bin Abu
Aisyah berkata, Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas
tentang firman Allah Ta'ala:
(Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk
(membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat ingin (menguasainya)." Berkata
Ibnu 'Abbas: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sangat kuat
keinginannya untuk menghafalkan apa yang diturunkan (Al Qur'an) dan
menggerak-gerakkan kedua bibir Beliau." Berkata Ibnu 'Abbas: "aku akan
menggerakkan kedua bibirku (untuk membacakannya) kepada kalian sebagaimana
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukannya kepadaku". Berkata
Sa'id: "Dan aku akan menggerakkan kedua bibirku (untuk membacakannya) kepada
kalian sebagaimana aku melihat Ibnu 'Abbas melakukannya. Maka Nabi shallallahu
'alaihi wasallam menggerakkan kedua bibirnya, Kemudian turunlah firman Allah
Ta'ala: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak
cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya". Maksudnya Allah
mengumpulkannya di dalam dadamu (untuk dihafalkan) dan kemudian kamu membacanya:
"Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu".
Maksudnya: "Dengarkanlah dan diamlah". Kemudian Allah Ta'ala berfirman:
"Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. Maksudnya: "Dan
Kewajiban Kamilah untuk membacakannya" Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam sejak saat itu bila Jibril 'Alaihis Salam datang kepadanya, Beliau
mendengarkannya. Dan bila Jibril 'Alaihis Salam sudah pergi, maka Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam membacakannya (kepada para sahabat) sebagaimana
Jibril 'Alaihis Salam membacakannya kepada Beliau shallallahu 'alaihi
wasallam
No. Hadist: 5
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ ح و
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ
أَخْبَرَنَا يُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ نَحْوَهُ قَالَ أَخْبَرَنِي
عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا
يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ
لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ
الْمُرْسَلَةِ
Telah
menceritakan kepada kami Abdan dia berkata, telah mengabarkan kepada kami
Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dan dengan riwayat
yang sama, telah menceritakan pula kepada kami Bisyir bin Muhammad berkata,
telah mengabarkan kepada kami Abdullah berkata, telah mengabarkan kepada kami
Yunus dan Ma'mar dari Az Zuhri seperti lainnya berkata, telah mengabarkan kepada
kami Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu 'Abbas berkata, bahwa
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam adalah manusia yang paling lembut terutama pada
bulan Ramadlan ketika malaikat Jibril 'Alaihis Salam menemuinya, dan adalah
Jibril 'Alaihis Salam mendatanginya setiap malam di bulan Ramadlan, dimana
Jibril 'Alaihis Salam mengajarkan Al Qur'an. Sungguh Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam jauh lebih lembut daripada angin yang berhembus.
No. Hadist: 6
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ
الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ
أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سُفْيَانَ بْنَ حَرْبٍ
أَخْبَرَهُ أَنَّ هِرَقْلَ أَرْسَلَ إِلَيْهِ فِي رَكْبٍ مِنْ قُرَيْشٍ وَكَانُوا
تِجَارًا بِالشَّأْمِ فِي الْمُدَّةِ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَادَّ فِيهَا أَبَا سُفْيَانَ وَكُفَّارَ قُرَيْشٍ فَأَتَوْهُ
وَهُمْ بِإِيلِيَاءَ فَدَعَاهُمْ فِي مَجْلِسِهِ وَحَوْلَهُ عُظَمَاءُ الرُّومِ
ثُمَّ دَعَاهُمْ وَدَعَا بِتَرْجُمَانِهِ فَقَالَ أَيُّكُمْ أَقْرَبُ نَسَبًا
بِهَذَا الرَّجُلِ الَّذِي يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ فَقَالَ أَبُو سُفْيَانَ
فَقُلْتُ أَنَا أَقْرَبُهُمْ نَسَبًا فَقَالَ أَدْنُوهُ مِنِّي وَقَرِّبُوا
أَصْحَابَهُ فَاجْعَلُوهُمْ عِنْدَ ظَهْرِهِ ثُمَّ قَالَ لِتَرْجُمَانِهِ قُلْ
لَهُمْ إِنِّي سَائِلٌ هَذَا عَنْ هَذَا الرَّجُلِ فَإِنْ كَذَبَنِي فَكَذِّبُوهُ
فَوَاللَّهِ لَوْلَا الْحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ
عَنْهُ ثُمَّ كَانَ أَوَّلَ مَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَنْ قَالَ كَيْفَ نَسَبُهُ
فِيكُمْ قُلْتُ هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ قَالَ فَهَلْ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ
مِنْكُمْ أَحَدٌ قَطُّ قَبْلَهُ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ
مَلِكٍ قُلْتُ لَا قَالَ فَأَشْرَافُ النَّاسِ يَتَّبِعُونَهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ
فَقُلْتُ بَلْ ضُعَفَاؤُهُمْ قَالَ أَيَزِيدُونَ أَمْ يَنْقُصُونَ قُلْتُ بَلْ
يَزِيدُونَ قَالَ فَهَلْ يَرْتَدُّ أَحَدٌ مِنْهُمْ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ
يَدْخُلَ فِيهِ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ
قَبْلَ أَنْ يَقُولَ مَا قَالَ قُلْتُ لَا قَالَ فَهَلْ يَغْدِرُ قُلْتُ لَا
وَنَحْنُ مِنْهُ فِي مُدَّةٍ لَا نَدْرِي مَا هُوَ فَاعِلٌ فِيهَا قَالَ وَلَمْ
تُمْكِنِّي كَلِمَةٌ أُدْخِلُ فِيهَا شَيْئًا غَيْرُ هَذِهِ الْكَلِمَةِ قَالَ
فَهَلْ قَاتَلْتُمُوهُ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَكَيْفَ كَانَ قِتَالُكُمْ إِيَّاهُ
قُلْتُ الْحَرْبُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ سِجَالٌ يَنَالُ مِنَّا وَنَنَالُ مِنْهُ
قَالَ مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ وَلَا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا
بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ فَقَالَ
لِلتَّرْجُمَانِ قُلْ لَهُ سَأَلْتُكَ عَنْ نَسَبِهِ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ فِيكُمْ
ذُو نَسَبٍ فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا وَسَأَلْتُكَ هَلْ
قَالَ أَحَدٌ مِنْكُمْ هَذَا الْقَوْلَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقُلْتُ لَوْ كَانَ
أَحَدٌ قَالَ هَذَا الْقَوْلَ قَبْلَهُ لَقُلْتُ رَجُلٌ يَأْتَسِي بِقَوْلٍ قِيلَ
قَبْلَهُ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا
قُلْتُ فَلَوْ كَانَ مِنْ آبَائِهِ مِنْ مَلِكٍ قُلْتُ رَجُلٌ يَطْلُبُ مُلْكَ
أَبِيهِ وَسَأَلْتُكَ هَلْ كُنْتُمْ تَتَّهِمُونَهُ بِالْكَذِبِ قَبْلَ أَنْ
يَقُولَ مَا قَالَ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا فَقَدْ أَعْرِفُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ
لِيَذَرَ الْكَذِبَ عَلَى النَّاسِ وَيَكْذِبَ عَلَى اللَّهِ وَسَأَلْتُكَ
أَشْرَافُ النَّاسِ اتَّبَعُوهُ أَمْ ضُعَفَاؤُهُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّ ضُعَفَاءَهُمْ
اتَّبَعُوهُ وَهُمْ أَتْبَاعُ الرُّسُلِ وَسَأَلْتُكَ أَيَزِيدُونَ أَمْ
يَنْقُصُونَ فَذَكَرْتَ أَنَّهُمْ يَزِيدُونَ وَكَذَلِكَ أَمْرُ الْإِيمَانِ حَتَّى
يَتِمَّ وَسَأَلْتُكَ أَيَرْتَدُّ أَحَدٌ سَخْطَةً لِدِينِهِ بَعْدَ أَنْ يَدْخُلَ
فِيهِ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الْإِيمَانُ حِينَ تُخَالِطُ بَشَاشَتُهُ
الْقُلُوبَ وَسَأَلْتُكَ هَلْ يَغْدِرُ فَذَكَرْتَ أَنْ لَا وَكَذَلِكَ الرُّسُلُ
لَا تَغْدِرُ وَسَأَلْتُكَ بِمَا يَأْمُرُكُمْ فَذَكَرْتَ أَنَّهُ يَأْمُرُكُمْ
أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَيَنْهَاكُمْ عَنْ
عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَيَأْمُرُكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ
فَإِنْ كَانَ مَا تَقُولُ حَقًّا فَسَيَمْلِكُ مَوْضِعَ قَدَمَيَّ هَاتَيْنِ وَقَدْ
كُنْتُ أَعْلَمُ أَنَّهُ خَارِجٌ لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ أَنَّهُ مِنْكُمْ فَلَوْ
أَنِّي أَعْلَمُ أَنِّي أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ وَلَوْ كُنْتُ
عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ ثُمَّ دَعَا بِكِتَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي بَعَثَ بِهِ دِحْيَةُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى
فَدَفَعَهُ إِلَى هِرَقْلَ فَقَرَأَهُ فَإِذَا فِيهِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ
الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ
بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ
فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ { يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا
إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ
وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ
دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا
مُسْلِمُونَ }
قَالَ
أَبُو سُفْيَانَ فَلَمَّا قَالَ مَا قَالَ وَفَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ الْكِتَابِ
كَثُرَ عِنْدَهُ الصَّخَبُ وَارْتَفَعَتْ الْأَصْوَاتُ وَأُخْرِجْنَا فَقُلْتُ
لِأَصْحَابِي حِينَ أُخْرِجْنَا لَقَدْ أَمِرَ أَمْرُ ابْنِ أَبِي كَبْشَةَ إِنَّهُ
يَخَافُهُ مَلِكُ بَنِي الْأَصْفَرِ فَمَا زِلْتُ مُوقِنًا أَنَّهُ سَيَظْهَرُ
حَتَّى أَدْخَلَ اللَّهُ عَلَيَّ الْإِسْلَامَ وَكَانَ ابْنُ النَّاظُورِ صَاحِبُ
إِيلِيَاءَ وَهِرَقْلَ سُقُفًّا عَلَى نَصَارَى الشَّأْمِ يُحَدِّثُ أَنَّ هِرَقْلَ
حِينَ قَدِمَ إِيلِيَاءَ أَصْبَحَ يَوْمًا خَبِيثَ النَّفْسِ فَقَالَ بَعْضُ
بَطَارِقَتِهِ قَدْ اسْتَنْكَرْنَا هَيْئَتَكَ قَالَ ابْنُ النَّاظُورِ وَكَانَ
هِرَقْلُ حَزَّاءً يَنْظُرُ فِي النُّجُومِ فَقَالَ لَهُمْ حِينَ سَأَلُوهُ إِنِّي
رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ حِينَ نَظَرْتُ فِي النُّجُومِ مَلِكَ الْخِتَانِ قَدْ ظَهَرَ
فَمَنْ يَخْتَتِنُ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ قَالُوا لَيْسَ يَخْتَتِنُ إِلَّا
الْيَهُودُ فَلَا يُهِمَّنَّكَ شَأْنُهُمْ وَاكْتُبْ إِلَى مَدَايِنِ مُلْكِكَ
فَيَقْتُلُوا مَنْ فِيهِمْ مِنْ الْيَهُودِ فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى أَمْرِهِمْ
أُتِيَ هِرَقْلُ بِرَجُلٍ أَرْسَلَ بِهِ مَلِكُ غَسَّانَ يُخْبِرُ عَنْ خَبَرِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا اسْتَخْبَرَهُ
هِرَقْلُ قَالَ اذْهَبُوا فَانْظُرُوا أَمُخْتَتِنٌ هُوَ أَمْ لَا فَنَظَرُوا
إِلَيْهِ فَحَدَّثُوهُ أَنَّهُ مُخْتَتِنٌ وَسَأَلَهُ عَنْ الْعَرَبِ فَقَالَ هُمْ
يَخْتَتِنُونَ فَقَالَ هِرَقْلُ هَذَا مُلْكُ هَذِهِ الْأُمَّةِ قَدْ ظَهَرَ ثُمَّ
كَتَبَ هِرَقْلُ إِلَى صَاحِبٍ لَهُ بِرُومِيَةَ وَكَانَ نَظِيرَهُ فِي الْعِلْمِ
وَسَارَ هِرَقْلُ إِلَى حِمْصَ فَلَمْ يَرِمْ حِمْصَ حَتَّى أَتَاهُ كِتَابٌ مِنْ
صَاحِبِهِ يُوَافِقُ رَأْيَ هِرَقْلَ عَلَى خُرُوجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ نَبِيٌّ فَأَذِنَ هِرَقْلُ لِعُظَمَاءِ الرُّومِ فِي
دَسْكَرَةٍ لَهُ بِحِمْصَ ثُمَّ أَمَرَ بِأَبْوَابِهَا فَغُلِّقَتْ ثُمَّ اطَّلَعَ
فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الرُّومِ هَلْ لَكُمْ فِي الْفَلَاحِ وَالرُّشْدِ وَأَنْ
يَثْبُتَ مُلْكُكُمْ فَتُبَايِعُوا هَذَا النَّبِيَّ فَحَاصُوا حَيْصَةَ حُمُرِ
الْوَحْشِ إِلَى الْأَبْوَابِ فَوَجَدُوهَا قَدْ غُلِّقَتْ فَلَمَّا رَأَى هِرَقْلُ
نَفْرَتَهُمْ وَأَيِسَ مِنْ الْإِيمَانِ قَالَ رُدُّوهُمْ عَلَيَّ وَقَالَ إِنِّي
قُلْتُ مَقَالَتِي آنِفًا أَخْتَبِرُ بِهَا شِدَّتَكُمْ عَلَى دِينِكُمْ فَقَدْ
رَأَيْتُ فَسَجَدُوا لَهُ وَرَضُوا عَنْهُ فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَ شَأْنِ هِرَقْلَ
رَوَاهُ صَالِحُ بْنُ كَيْسَانَ وَيُونُسُ وَمَعْمَرٌ عَنْ
الزُّهْرِيِّ
Telah
menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi' dia berkata, telah
mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku
Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin 'Abbas telah
mengabarkan kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya;
bahwa
Heraclius menerima rombongan dagang Quraisy, yang sedang mengadakan
ekspedisi dagang ke Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam dengan Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy.
Saat singgah di Iliya' mereka menemui Heraclius atas undangan Heraclius untuk di
diajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraclius bersama dengan para
pembesar-pembesar Negeri Romawi. Heraclius berbicara dengan mereka melalui
penerjemah. Heraclius berkata; "Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan
keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?." Abu Sufyan berkata;
maka aku menjawab; "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan
dia". Heraclius berkata; "Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya."
Maka mereka meletakkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu
Heraclius berkata melalui penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya
kepadanya tentang lelaki yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku
maka kalian harus mendustakannya."Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat
tudingan pendusta yang akan mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta
kepadanya." Abu Sufyan berkata; Maka yang pertama ditanyakannya kepadaku
tentangnya (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) adalah: "bagaimana kedudukan
nasabnya ditengah-tengah kalian?" Aku jawab: "Dia adalah dari keturunan
baik-baik (bangsawan) ". Tanyanya lagi: "Apakah ada orang lain yang pernah
mengatakannya sebelum dia?" Aku jawab: "Tidak ada". Tanyanya lagi: "Apakah
bapaknya seorang raja?" Jawabku: "Bukan". Apakah yang mengikuti dia orang-orang
yang terpandang atau orang-orang yang rendah?" Jawabku: "Bahkan yang
mengikutinya adalah orang-orang yang rendah". Dia bertanya lagi: "Apakah
bertambah pengikutnya atau berkurang?" Aku jawab: "Bertambah". Dia bertanya
lagi: "Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol terhadap agamanya?" Aku jawab:
"Tidak ada". Dia bertanya lagi: "Apakah kalian pernah mendapatkannya dia
berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu?" Aku jawab: "Tidak
pernah". Dia bertanya lagi: "Apakah dia pernah berlaku curang?" Aku jawab:
"Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu".
Berkata Abu Sufyan: "Aku tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini".
Dia bertanya lagi: "Apakah kalian memeranginya?" Aku jawab: "Iya". Dia bertanya
lagi: "Bagaimana kesudahan perang tersebut?" Aku jawab: "Perang antara kami dan
dia sangat banyak. Terkadang dia mengalahkan kami terkadang kami yang
mengalahkan dia". Dia bertanya lagi: "Apa yang diperintahkannya kepada kalian?"
Aku jawab: "Dia menyuruh kami; 'Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukannya
dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan oleh nenek moyang
kalian. ' Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat,
berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim". Maka Heraclius
berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya
kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari
keturunan bangsawan. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan di tengah keturunan
kaumnya. Dan aku tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang
mengatakan seperti yang dikatakannya, kamu jawab tidak. Seandainya dikatakan ada
orang sebelumnya yang mengatakannya tentu kuanggap orang ini meniru orang
sebelumnya yang pernah mengatakan hal serupa. Aku tanyakan juga kepadamu apakah
bapaknya ada yang dari keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan
seandainya bapaknya dari keturunan raja, tentu orang ini sedang menuntut
kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu apakah kalian pernah
mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya, kamu
menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia saja dia tidak
berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya
kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang
yang rendah?" Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang
mereka itulah yang menjadi para pengikut Rasul. Aku juga sudah bertanya kepadamu
apakah bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan
memang begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya
kepadamu apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu
menjawab tidak ada. Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di
dalam hati. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang,
kamu jawab tidak pernah. Dan memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang.
Dan aku juga sudah bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian,
kamu jawab dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dengan tidak
menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan melarang kalian menyembah berhala,
dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berkata
jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim. Seandainya semua apa yang
kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang ada di bawah
kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian
sekarang ini, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan
berusaha keras menemuinya hingga bila aku sudah berada di sisinya pasti aku akan
basuh kedua kakinya. Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam yang dibawa oleh Dihyah untuk para Penguasa Negeri Bashrah,
Maka diberikannya surat itu kepada Heraclius, maka dibacanya dan isinya
berbunyi: "Bismillahir rahmanir rahim. Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya
untuk Heraclius. Penguasa Romawi, Keselamatan bagi siapa yang mengikuti
petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan Islam; masuk
Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala kepadamu dua
kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu, dan: Hai
ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan
tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita
menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb selain Allah". Jika mereka berpaling,
maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)." Abu Sufyan menuturkan: "Setelah Heraclius
menyampaikan apa yang dikatakannya dan selesai membaca surat tersebut,
terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut, sehingga mengusir kami. Aku
berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar; "sungguh dia telah
diajak kepada urusan Anak Abu Kabsyah. Heraclius mengkhawatirkan kerajaan
Romawi."Pada masa itupun aku juga khawatir bahwa Muhammad akan berjaya, sampai
akhirnya (perasaan itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam. Dan
adalah Ibnu An Nazhur, seorang Pembesar Iliya' dan Heraclius adalah seorang
uskup agama Nashrani, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraclius
mengunjungi Iliya' dia sangat gelisah, berkata sebagian komandan perangnya:
"Sungguh kami mengingkari keadaanmu. Selanjutnya kata Ibnu Nazhhur, "Heraclius
adalah seorang ahli nujum yang selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang.
Dia pernah menjawab pertanyaan para pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu
malam ketika saya mengamati perjalanan bintang-bintang, saya melihat raja Khitan
telah lahir, siapakah di antara ummat ini yang di khitan?" Jawab para pendeta;
"Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda risau karena
orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja keseluruh negeri dalam kerajaan anda,
supaya orang-orang Yahudi di negeri tersebut di bunuh." Ketika itu di hadapakan
kepada Heraclius seorang utusan raja Bani Ghasssan untuk menceritakan perihal
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, setelah orang itu selesai bercerita,
lalu Heraclius memerintahkan agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan ataukah
tidak. Seusai di periksa, ternyata memang dia berkhitam. Lalu di beritahukan
orang kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang tersebut tentang
orang-orang Arab yang lainnya, di khitankah mereka ataukah tidak?" Dia menjawab;
"Orang Arab itu di khitan semuanya." Heraclius berkata; 'inilah raja ummat,
sesungguhnya dia telah terlahir." Kemudian heraclius berkirim surat kepada
seorang sahabatnya di Roma yang ilmunya setarf dengan Heraclius (untuk
menceritakan perihal kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam).
Sementara itu, ia meneruskan perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba
di Himsha, balasan surat dari sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu.
Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraclius bahwa Muhammad telah lahir dan
bahwa beliau memang seorang Nabi. Heraclius lalu mengundang para pembesar Roma
supaya datang ke tempatnya di Himsha, setelah semuanya hadir dalam majlisnya,
Heraclius memerintahkan supaya mengunci semua pintu. Kemudian dia berkata;
'Wahai bangsa rum, maukah anda semua beroleh kemenangan dan kemajuan yang gilang
gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau, akuilah
Muhammad sebagai Nabi!." Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai
liar, padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian,
Heraclius jadi putus harapan yang mereka akan beriman (percaya kepada kenabian
Muhammad). Lalu di perintahkannya semuanya untuk kembali ke tempatnya
masing-masing seraya berkata; "Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi
hanyalah sekedar menguji keteguhan hati anda semua. Kini saya telah melihat
keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan Heraclius dan mereka senang
kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraclius.
Telah di riwayatkan oleh
Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az Zuhri.
@ Bohong Itu Hina Bagi Masyarakat Jahiliyah
Pelajaran:
- Meskipun membenci Nabi Muhammad ﷺ, orang-orang Quraisy tidak bersekongkol untuk berbohong dan membiarkan Abu Sufyan berbicara semaunya.
- Ketahuan berbohong akan menjatuhkan harga diri dan kredibilitas seseorang di tengah masyarakat jahiliyah. Karena itu Abu Sufyan menahan diri dari berbohong walaupun ia sangat ingin bercerita bohong.
- Di masa kemudian, tradisi kejujuran bangsa Arab memudahkan dan sangat membantu dalam periwayatan hadits Nabi ﷺ.
- Keluarga para nabi adalah keluarga terhormat.
- Tidak tepat menilai kebenaran dengan keadaan pengikutnya. Banyak orang-orang lemah dan miskin yang berada dalam ketaatan dan ajaran Nabi bukan berarti hal itu keliru. Sebagaimana orang-orang liberal dan sekuler sering menjadikan kemajuan Eropa sebagai alasan untuk meninggalkan ajaran Islam yang hakiki. Karena menurut mereka ajaran ini tidak benar dan sudah tidak cocok lagi dengan zaman.
- Umat Islam jumlahnya senantiasa bertambah.
- Nabi Isa juga menyerukan kalimat laa ilaaha illallah. Karena itu Nabi mengutip surat Ali Imran ayat 64 untuk mendakwahi Romawi yang Nasrani.
Pelajaran dari hadits tersebut:
1- Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berhias dengan sifat jujur sampai beliau tersohor dengan sifat mulia tersebut, bahkan hal ini diakui atau dikatakan pula oleh musuhnya, Abu Sufyan.
2- Pokok agama ini adalah tauhid. Pokok ajaran yang diperingatkan adalah kesyirikan.
3- Setiap Rasul diutus untuk menjelaskan tauhid dan memberantas kesyirikan. Sehingga setiap pendakwah Islam hendaknya menjadikan dakwah ini sebagai prioritas utama.
4- Allah memerintahkan segala sesuatu yang menjadi maslahat bagi manusia di dunia dan akhiratnya.
5- Hendaklah meninggalkan taklid atau fanatik buta pada nenek moyang, terkhusus dalam masalah agama. Adapun ajaran nenek moyang yang menunjukkan akhlak mulia, maka tetap boleh ditiru bahkan Islam kembali menyempurnakannya.
6- Islam mengajarkan untuk jujur, menjaga diri dari zina, menjalin hubungan kerabat, juga yang utama memperhatikan hak Allah yaitu mentauhidkan-Nya dan mendirikan shalat.
Rekaman Dialog Abu Sofyan Dan Heraklius
==================================================================Rekaman Dialog Abu Sofyan Dan Heraklius
MACAM-MACAM WAHYU
Ada bermacam-macam wahyu syar’i, dan yang terpenting ialah sebagaimana penjelasan berikut.
Pertama : Taklimullah (Allah Azza wa Jalla berbicara langsung) kepada NabiNya dari belakang hijab. Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan apa yang hendak Dia sampaikan, baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tidur.
Sebagai contoh dalam keadaan terjaga, yaitu seperti ketika Allah Azza wa Jalla berbicara langsung dengan Musa Alaihissallam, dan juga dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada peristiwa isra’ dan mi’raj. Allah berfirman tentang nabi Musa :
” …Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung” [an Nisaa`/4 : 164].
Adapun contoh ketika dalam keadaan tidur, yaitu sebagaimana diceritakan dalam hadits dari Ibnu Abbas dan Mu’adz bin Jabal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَتَانِي رَبِّي فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ قُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ وَسَعْدَيْكَ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ رَبِّ لَا أَدْرِي فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيَّ فَوَجَدْتُ بَرْدَهَا بَيْنَ ثَدْيَيَّ فَعَلِمْتُ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ فَقُلْتُ لَبَّيْكَ رَبِّ وَسَعْدَيْكَ قَالَ فِيمَ يَخْتَصِمُ الْمَلَأُ الْأَعْلَى قُلْتُ …
“Aku didatangi (dalam mimpi) oleh Rabb-ku dalam bentuk terbaik, lalu Dia berfirman : “Wahai, Muhammad!”
Aku menjawab,”Labbaik wa sa’daika.”
Dia berfirman,”Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?”
Aku menjawab,”Wahai, Rabb-ku, aku tidak tahu,” lalu Dia meletakkan tanganNya di kedua pundakku, sampai aku merasakan dingin di dadaku. Kemudian, aku dapat mengetahui semua yang ada di antara timur dan barat.
Allah Azza wa Jalla berfirman,”Wahai, Muhammad!”
Aku menjawab,”Labbaik wa sa’daika!”
Dia berfirman,”Apa yang diperdebatkan oleh para malaikat itu?”
Aku menjawab,”………”. (Al hadits).
Dalam hal wahyu ini, para ulama salaf, Ahli Sunnah wal Jama’ah memegangi pendapat, bahwa Nabi Musa Alaihissallam dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keduanya pernah mendengar kalamullah al azaliy al qadim [1], yang merupakan salah satu sifat di antara sifat-sifat Allah. Pendapat ini sangat berbeda dan tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian orang, bahwa yang terdengar adalah bisikan hati atau suara yang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla pada sebatang pohon.
Kedua : Allah Azza wa Jalla menyampaikan risalahNya melalui perantaraan Malaikat Jibril, dan ini meliputi beberapa cara, yaitu :
1. Malaikat Jibril menampakkan diri dalam wujud aslinya. Cara seperti ini sangat jarang terjadi, dan hanya terjadi dua kali. Pertama, saat Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah masa vakum dari wahyu, yaitu setelah Surat al ‘Alaq diturunkan, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menerima wahyu beberapa saat. Masa ini disebut masa fatrah, artinya kevakuman. Kedua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Malaikat Jibril dalam wujud aslinya, yaitu saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimi’rajkan.
2. Malaikat Jibril Alaihissallam terkadang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wujud seorang lelaki. Biasanya dalam wujud seorang lelaki yang bernama Dihyah al Kalbiy. Dia adalah seorang sahabat yang tampan rupawan. Atau terkadang dalam wujud seorang lelaki yang sama sekali tidak dikenal oleh para sahabat. Dalam penyampaian wahyu seperti ini, semua sahabat yang hadir dapat melihatnya dan mendengar perkataannya, akan tetapi mereka tidak mengetahui hakikat permasalahan ini. Sebagaimana diceritakan dalam hadits Jibril yang masyhur, yaitu berisi pertanyaan tentang iman, Islam dan ihsan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Di awal hadits ini, ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menceritakan :
بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …
Pada suatu saat, kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, sangat hitam rambutnya, tidak terlihat tanda-tanda melakukan perjalanan jauh, dan tidak tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalnya, sampai dia duduk di dekat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Kemudian di akhirnya, yaitu sesaat setelah orang itu pergi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Umar Radhiyallahu ‘anhu :
يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنْ السَّائِلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ
“Wahai, ‘Umar. Tahukah engkau, siapakah orang yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui,” (kemudian) Rasulullah bersabda,”Dia itu adalah Malaikat Jibril datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian din (agama) kalian.”
Ini menunjukkan, meskipun para sahabat dapat melihatnya dan bisa mendengar suaranya, namun mereka tidak mengetahui jika dia adalah Malaikat Jibril yang datang membawa wahyu. Mereka mengerti setelah diberitahu oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ia tidak terlihat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kedatangan Malaikat Jibril dengan suara yang mengirinya. Terkadang seperti suara lonceng, dan terkadang seperti dengung lebah. Inilah yang terberat bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga dilukiskan saat menerima wahyu seperti ini, wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah. Meski pada cuaca yang sangat dingin, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bermandikan keringat, dan pada saat itu bobot fisik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah secara mendadak.
Sebagaimana diceritakan oleh salah seorang sahabat, yaitu Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Allah Azza wa Jalla menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara itu paha beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di atas pahaku. Lalu paha beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi berat, sampai aku khawatir pahaku akan hancur”.[2]
Beratnya menerima wahyu dengan cara seperti ini, juga diceritakan sendiri oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa ass ditanya :
يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْيُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ
“Wahai, Rasulullah. Bagaimanakah cara wahyu sampai kepadamu?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan inilah yang terberat bagiku, dan aku memperhatikan apa dia katakan. Dan terkadang seorang malaikat mendatangi dengan berwujud seorang lelaki, lalu dia menyampaikannya kepadaku, maka akupun memperhatikan apa yang dia ucapkan.”
Berdasarkan riwayat dan penjelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, maka dapat dipahami bahwa saat menerima semua wahyu, Rasulullah merasa berat. Namun, yang paling berat ialah cara yang semacam ini.
Ketiga : Wahyu disampaikan dengan cara dibisikkan ke dalam kalbu.
Yaitu Allah Azza wa Jalla atau Malaikat Jibril meletakkan wahyu yang hendak disampaikan ke dalam kalbu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disertai pemberitahuan bahwa, ini merupakan dari Allah Azza wa Jalla. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab al Qana’ah, dan Ibnu Majah, serta al Hakim dalam al Mustadrak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ رُوْحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رُوْعِي : لَنْ تَمُوْتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ لاَ يُنَالُ مَاعِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ
“Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril) meniupkan ke dalam kalbuku : “Tidak akan ada jiwa yang mati sampai Allah Azza wa Jalla menyempurnakan rizkinya. Maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, dan carilah rizki dengan cara yang baik. Janganlah keterlambatan rizki membuat salah seorang di antara kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya apa yang di sisi Allah Azza wa Jalla tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mentaatiNya”.
Keempat : Wahyu diberikan Allah Azza wa Jalla dalam bentuk ilham.
Yaitu Allah memberikan ilmu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat beliau berijtihad pada suatu masalah.
Kelima : Wahyu diturunkan melalui mimpi.
Yaitu Allah Azza wa Jalla terkadang memberikan wahyu kepada para nabiNya dengan perantaraan mimpi. Sebagai contoh, yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalllam agar menyembelih anaknya. Peristiwa ini diceritakan oleh Allah Azza wa Jalla:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. [ash Shaffat/37 : 102].
[Diangkat dari as-Siratun Nabawiyah fi Dau-il Qur’an was Sunnah, Muhammad bin Muhammad Abu Syuhbah, hlm. 269-271]
Footnote
[1]. Kalamullah secara hakiki
[2]. Shahih Bukhari
=====================
Footnote
[1]. Kalamullah secara hakiki
[2]. Shahih Bukhari
=====================
Ibnul Qoyim menyebutkan bahwa wahyu ada 7 bentuk,
Pertama, mimpi yang benar
Dan inilah permulaan wahyu yang diterima oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha,
أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ
Awal permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar ketika beliau tidur.. setiap kali beliau bermimpi, beliau melihat seperti fajar subuh… (HR. Bukhari 3 & Muslim 422).
Kedua, bisikan yang disampaikan malaikat ke hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
Seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إنّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا
Sesungguhnya Ruh Kudus (Malaikat Jibril) membisikkan dalam hatiku, bahwa siapapun jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya. (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf, 20100)
Ketiga, malaikat datang kepada beliau dengan wajah manusia. Berbicara dengan beliau, hingga beliau memahami pesan-pesan yang disampaikan malaikat. Untuk kejadian ini, terkadang para sahabat turut melihat malaikat. Sebagaimana yang terjadi pada hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu tentang iman, islam dan ihsan.
Keempat, beliau mendenar suara keras seperti rantai yang digesekkan di batu.
Suasana ini yang paling berat bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saking beratnya, ada beberapa kejadian yang sangat aneh,
– Beliau bercucuran keringat padahal musim dingin
– Ketika beliau di atas onta, atau kendaraan lainnya, maka langsung menderum
– Ketika paha beliau mengenai paha sahabat, tiba-tiba berubah menjadi sangat berat
Kelima, beliau melihat malaikat dalam bentuk asli, lalu malaikat itu menyampaikan wahyu sesuai yang Allah perintahkan.
Dan ini terjadi 2 kali. Sebagaimana yang Allah firmankan di surat an-Najm,
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى . عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى . ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى . وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى . ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى . فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى . فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى . مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى . أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى . وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى . عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
Tiadalah yang diucapkan Muhammad itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat ….sedang dia berada di ufuk yang tinggi () Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan… Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (QS. an-Najm: 3-14).
Keenam, wahyu yang Allah sebutkan ketika beliau berada di atas langit yang ketujuh. Beliau mendapatkan kewajiban shalat 5 waktu.
Ketujuh, allah berbicara langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara, sebagaimana Allah berbicara langsung dengan Musa tanpa perantara. Kejadian ini disebutkan dalam hadis isra’ mi’raj. (Zadul Ma’ad, 1/76)
No comments